PORTAL CIPARI – Ada sekira 209 orang Cipari Stres alias edan, alias kentir, alias gemblung alias syaraf alias soplak, alias sotaktoling. Angka itu meningkat dibandingkan pasca Covid 19 (C19). Saat jumlah wong edan di Cipari ada 135 orang. Artinya angkanya bertambah 65 lebih.
Fakta tersebut disampaikan oleh Kirno pensiunan mantri Puskesmas Kecamatan Cipari Kabupaten Cilacap, beberapa waktu lalu. “Pasca Covid diperkirakan banyak orang stres. Ada 135an orang. Ternyata tahun ini (2026,res) jumlahnya mencapai 200an orang lebih,” kata Kirno yang saat ini telah pensiun.
Orang stres terdiri dari laki-laki dan perempuan. Kebanyakan adalah usia produktif. Mulai dari usia 30 – 55 tahun. Faktor penyebabnya adalah masalah rumah tangga dan atau ekonomi rumah tangga.
Contoh, ini faktor paling dominan. Dialami pasangan rumah tangga muda, yang salah satu pihak (pria/wanita) bekerja di luar negeri menjadi TKI/TKW. TKI (tenaga kerja Indonesia). TKW (tenaga kerja wanita).
Secara ekonomi (logikanya) ekonomi makin baik. Makin banyak duit. Semestinya makin sejahtera. Makin bahagia. Tetapi tidak menjadi jaminan.
Faktanya banyak pasangan (TKI/TKW) hancur rumah tangganya. Misal istrinya bekerja menjadi asisten rumah tangga (ART) alias “babu”. Suaminya di rumah. Ada yang punya anak 1. Ada yang belum punya anak.
Istrinya rajin mengirim uang dari luar negeri. Satu, 3 bulan, 6 bulan aman. Tetapi lama kelamaan. Suaminya tidak bekerja. Malah hanya “bermain-main”.
Main merpati, lontang lantung. Bahkan ada yang bermain judi. Judi online dan atau judi offline. Ngenesnya lagi ada yang “main perempuan”.
Kabar itu terdengar sampai ke luar negeri. Akibatnya hubungan menjadi renggang. Bahkan putus. Fakta terbalik juga ada. Ketika suaminya menjadi TKI. Istrinya di rumah malah “selingkuh”.
Fakta lain. Ada perempuan muda, warga Desa Serang. Status perawan (belum menikah). Bekerja di Korea. Tiga tahun bekerja menjadi ART. Uang gaji bulanan dikirim ke orang tua/keluarga. Setiap bulan.
Sampai rumah ternyata uangnya habis. Tidak dibelikan sawah. Bangun rumah juga belum jadi, uang sudah habis. Dia stres. Dia tidak lagi percaya dengan keluarganya. Dia juga tidak percaya dengan siapapun.
“Sekarang dia mlaku-mlaku turut jalan, ambili sampah makanan, dikasih makan orang tidak mau. Malah marah,” turut Kirno. (Agus Jangi”
semoga ulama & umaro-nya pada waras.














Leave a Reply